Aisyah deana alsadira

Posted: Februari 2, 2012 in 30193

Alhamdulillah Rabil alamiin, Jum’at 27 Januari 2012, pukul 16:15 WITA, istri saya yang cantik telah melahirkan buah hati pertama kami,

Perasaan was-was & rasa takut hilang dalam sekejap saat mendengar tangis pertama sang buah hati, serasa membelah awan berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis, ngebut menuju rasi bintang paling manis.

Aisyah deana alsadira

nama yang kami pilihkan untuknya

Aisyah : yang juga istri Rasulullah SAW, yang digelari ummul mukminin

deana : yang dalam bahasa latin berarti Surga, semoga kelak dia yang menjadi surga kecil kami didunia dan sebagai jalan bagi kami untuk meraih surga firdaus

Sadira : yang dalam bahasa Arab berarti Bintang. semoga kelak menjadi penuntun kami, ketika kami tersesat digelapnya malam.

yaa. illai Rabbi
Bentuklah puteri kami menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteri kami menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Puteri yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

ya.. Rahman

Biarkan puteri kami belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putri
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.

Puteri yang berhasrat
Untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup Kejenakaan
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

ya.. Rahimm
Berilah ia kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Untuk Yang Tersakiti

Posted: Maret 18, 2011 in Cerpen

Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti.
Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini, untuk dia yang terus berdiam diri, untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini.

Assalamu’alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti,

Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita. Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu. Maafkanlah aku yang tak pernah dewasa dalam mengambil sikap.

Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini. Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu. Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini. Maka maafkanlah aku.
Apakah engkau harus terus memegang kata: tidaklah mudah untuk memaafkan.

Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?
Atau memang engkau telah memaafkan segala kesalahanku? Namun mengapa telah terputus tali silaturahmi diantara kita?

Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah begitu mudah memutuskan sesuatu yang berat, janganlah begitu mudah membenci sesuatu. Hal yang engkau anggap ringan itu sebenarnya adalah sesuatu yang berat di mata Allah. “Dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil.”

Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah engkau seperti Yunus ketika meninggalkan kaumnya karena kemarahannya akibat kezaliman kaumnya dan Allah pun memperingatkan Yunus, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”

Dulu kita pernah berteman baik sekali, hingga aku pun mengerti kapan kau akan sakit dalam tiap-tiap bulanmu. Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun memberikannya. Dulu, kita berdua begitu baik.

Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan?

Sedari awal, aku telah memaafkanmu. Bahkan aku merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku. Aku yang memulai menanam angin, dan aku melihat badai di antara kita. Badai dingin yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku.

Jangan takut jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul. Aku bukanlah seorang baiquni seperti yang dulu lagi. Aku telah mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai. Aku sekarang sedang mencari bidadari.

Ingin aku bercerita kepadamu, kandidat-kandidat bidadariku.

Mengapa setelah habis cinta timbul beribu kebencian. Mengapa tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf. Jujur, bukan dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga. Namun aku mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati. Andai engkau tahu wahai engkau yang pernah kusakiti.
Pernahkah engkau menangis karenaku seperti aku menangis karenamu? Seperti aku terisak dihadapanmu. Pernahkah?

Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi. Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi, tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina. Bahkan setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku.

Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu? Bahkan Tuhan saja memaafkan.

Tahukah wahai engkau yang pernah tersakiti, betapa aku meneteskan air mata saat menulis ini. Betapa aku seolah pendosa laksana iblis yang terkutuk. Apakah engkau mengerti apa yang kurasakan? Mengertikah dirimu?

Tak pernah ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan. Tidak aku, tidak juga kamu wahai engkau yang pernah tersakiti. Maka, bukalah pintu maafmu itu.
Untuk surat ini, untuk kekhilafanku yang lampau, untuk kenangan yang membuatmu sakit, untuk segala sesuatu tentang kita, aku minta maaf.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

kencan

Posted: Desember 26, 2010 in Aku ingin Berjuang

kenapa gak pernah ajak saya kencan ?
entah ini tantangan ato tawaran, yang jelas pertanyaan ini cukup ampuh untuk membuatku sedikit berfikir, come on g**gle, i need u now
“kencan” keyword yang saya tuliskan di search enggine..

tapi kok hasilnya mengarah ke vulgar & kayak ciuman ya,,
nggak mungkinlah she someone bertanya tentang gini-ginian ke saya, karena setahu saya dia itu perempuan yang betul” tidak kompromi dengan pelecehan apalagi soal kontak langsung jadi “keep open the 2nd page”.

bentar d lajut ya..

ceritanya dilanjut, dihalaman kedua saya dapat beberapa pendapat yang agak sopan

- KOMPAS.com – Anda pernah merasakan “klik” yang nyaman dengan seseorang? Pertama kali ngobrol lalu Anda merasa terhubung dan saling timbal balik yang enak? Jarang-jarang, ya? Kita pikir hal semacam itu terjadi dengan alami dan tidak bisa dibuat-buat. Namun, Rom dan Ori BRafman, penulis Click: The Magic of Instant Connections, mengatakan, keterhubungan tidak terjadi begitu saja. Menurut kakak beradik ini, hal itu bisa diprakarsai.

Dalam bukunya, para penulis mengatakan, bahwa menunjukkan kerentanan diri bisa membantu si dia untuk terhubung dan merasa ingin berjumpa lagi dengan Anda. Menurut mereka, kita seringkali mengasosiasikan kerentanan dengan hal yang negatif atau kelemahan, namun, yang dimaksud dengan kerentanan di sini adalah keterbukaan dan mengungkapkan informasi pribadi. Bukan berarti membuka diri dan memberitahu si dia semua rahasia terdalam Anda dan mencurahkan semua masalah Anda. Hal-hal kecil, seperti bercanda atau memberitahunya apa yang sedang terlintas dalam pikiran Anda akan menciptakan semacam keintiman. Semakin Anda ungkap tentang diri Anda, maka si dia pun akan mencoba melakukan hal yang sama, lalu hal ini akan membuatnya merasa ada hubungan dengan Anda.

ada gangguat cz

Universitas Kehidupan

Posted: Desember 23, 2010 in dak jelas (en-jels)

Mereka nyaris sama, datang silih berganti..
Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka kedoknya. Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama. Semkin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan (Kahlil Gibran)

Kalau boleh mengkritik, ada banyak sekali manusia yang hanya mau kebahagiaan, dan membuang kesedihan. Sayangnya, sebagaimana alam yang mengenal fase, kehidupan kita pun mengenal siklus. Kesedihan dan kebahagiaan adalah salah satu dari banyak fase yang harus kita lalui. Baca entri selengkapnya »