DEWA 19 dan PLURALISME

Posted: Maret 6, 2010 in DEWA 19 dan PLURALISME

Memperjuangkan idealisme adalah barang langka dalam kesenian populer Indonesia, terutama seni musik. Teramat jarang ditemui insan-insan musik yang berkesenian untuk mempertahankan sebuah idealisme, kendatipun itu mendobrak premis mayor mainstream masyarakat. Kebanyakan pemusik hanyalah serpihan budaya massa yang kaku dan tak berjati diri. Teramat langka pemusik Indonesia yang mencoba bertanya kepada sebuah realitas: bertanya, dalam hal ini, adalah mencoba untuk kritis, dan mungkin untuk melawan.

Di zaman Orde Baru, kita hanya menemukan satu nama, Iwan Fals, selebihnya tidak. Pasca Orde Baru, ketika kekuatan penindas tidak terpusat pada negara, melainkan diambil-alih oleh masyarakat mayoritas, maka perlawanan terhadap ketertindasan bukan lagi dialamatkan kepada negara semata-mata, melainkan kepada mayoritas penindas. Masyarakat bukanlah harga mati bagi sebuah kebenaran. Eforia demokrasi memang kerapkali membawa kekuatan mayoritas sebagai penafsir tunggal kebenaran. Kekuatan-kekuatan kecil, dengan kebenarannya masing-masing, kerapkali ditindas oleh kekuatan golongan besar.

Ironi Demokrasi

Inilah salah satu ironi demokrasi. Dan hal seperti inilah yang nyata dalam fakta kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Berbagai peristiwa yang tersiar ke masyarakat umum memperjelas arogansi kebenaran mayoritas terhadap minoritas: kasus M. Yusman Roy yang diadili karena mengajarkan salat dwi-bahasa, protes terhadap grup musik Dewa karena dianggap menghina Allah, juga berbagai peristiwa kekerasan atas nama agama di Jawa Timur, dan lain sebagainya.

Pada kondisi seperti ini, grup musik Dewa, walau agak sungkan, muncul dengan paradigma perlawanan terhadap dominasi kebenaran mayoritas melalui lirik-lirik lagunya yang pluralis, disamping religius, filosofis, dan nasionalis-patriotis. Coba kita bedah bait-bait lagu album Dewa, Laskar Cinta, yang menuai kontroversi. “Katamu kau cinta aku/ Demi Tuhan kau bersumpah/ Katamu kau akan setia/ Demi Tuhan kau berjanji/ Begitu mudah mulutmu berkata/ Atas Nama Tuhan/ Demi kepentinganmu/ Atas nama cinta saja/ Jangan bawa-bawa Nama Tuhan/ Apapun cara kau tempuh untuk dapatkan yang kau mau/ Meski kau harus jual murah ayat-ayat suci Tuhan (Atas Nama Cinta).”

Bait-bait itu mencerminkan prinsip sekularisasi, dimana Dewa berusaha mensakralkan Tuhan dan agama pada posisi di luar urusan duniawi. Ahmad Dhani (pemimpin Dewa) mencoba kritis terhadap budaya kepalsuan dan kemunafikan di negeri ini yang begitu mudah menjustifikasi segala kepentingan atas nama Tuhan: entah itu kepentingan di dunia politik, ekonomi, budaya, dan di dalam hubungan personal antar sesama manusia.

Bagi Dewa, kebenaran tidak dipatenkan hanya milik sekelompok orang, sebab setiap kepala memiliki keunikannya sendiri. “Hidup ini punya sejuta warna/ Tak hanya hitam putih/ Begitu adanya/ Apa yang kamu yakini sebagai sebuah kebenaran/ mungkin…/ bukanlah sebuah kebenaran buat yang lainnya (Shine On).”

Dalam realitas majemuk yang selalu berubah, relativitas kebenaran subjektif adalah sebuah pengandaian yang tak terbantahkan. Tapi di luar relativitas kebenaran subjektif, ada kebenaran objektif yang hakiki. “Tak ada kebenaran hakiki/ Yang ada Cuma hanya/ Kamu di sana…/ Dan akulah milikMu/ Keyakinan akan sebuah kebenaran/ Bukanlah kebenaran/ Kebenaran yang sejati/ Bila tak benar…diuji kebenarannya (Nonsens).”

Konsep Kebenaran

Filsuf abad Pencerahan, Imanuel Kant, membagi kebenaran dalam dua kutub besar: kebenaran fatamorgana (baca: fenomena) yang dicerap oleh potensi subjektif kemanusiaan, dan kebenaran hakiki (baca: numena) yang objektif dan tak terjangkau oleh potensi kemanusiaan. Ketika seseorang menyatakan sebuah kebenaran objektif, maka sesungguhnya itu hanyalah klaim kebenaran subjektif. Setiap orang memiliki kebenaran subjektifnya masing-masing. Oleh karenanya, keraguan atau kesangsian adalah hal wajar dalam kehidupan duniawi.

“Bila…ada adalah…tidak ada/ Bila…apa yang…kau tahu salah/ Bila…apa yang…kau dengar bohong/ Apakah langit…/ Memang ada di atas kita/ Apakah langit…/ Memang biru-biru warnanya/ Apakah langit…/ Memang benar-benar adanya (Nonsens).” Lalu bila dicermati lebih jauh, dan orang mau jujur tentang itu, bait-bait lagu Dewa ini berasal dari sebuah refleksi yang tidak dangkal. Butuh perenungan panjang, mungkin juga pergulatan batin, untuk melahirkannya: bukan hanya karena kedalaman maknanya, melainkan juga karena ia merupakan bentuk perlawanan terhadap epistema mayoritas masyarakat Indonesia.

Tidak mudah melakukan perlawanan terhadap realitas yang begitu menindas, apalagi atas nama kekuatan absolute, Tuhan. Untuk itulah, bisa dipahami ketika Dewa melunak ketika dituntut untuk mengganti gambar sampul album terakhirnya. Jauh lebih bermanfaat semua lapisan masyarakat mau mendengarkan bait-bait lagunya dari pada berrebut soal gambar sampul. Gambar sampul hanyalah simbol, sementara inti dari misinya ada di dalam bait-bait yang memukau itu. Dan mungkin Dhani dan kawan-kawan ingin menunjukkan, bahwa simbol dimana-mana selalu tak terlalu penting.

Puncak dari rangkaian refleksi perlawanan Dewa tercermin dalam lagu Satu, lagu yang diaku terinspirasi dari capaian religiusitas Abu Mansyur al-Hallaj. Lagu ini disebut banyak kalangan sebagai refleksi paham keagamaan panteisme, wihdlatul wujud. Cinta hamba kepada Tuhan, pada tingkat tertinggi, membentuk ketiadaan jarak antara keduanya. Kemuliaan prilaku sebagai hamba di dunia ini hanyalah instrumen untuk mendekati kemuliaan Tuhan. Semulia-mulianya manusia adalah yang mampu merefleksikan kemuliaan Tuhan secara sempurna.

Penyatuan hamba dengan Tuhan adalah kondisi di mana segala urusan dan kepentingan pribadi ditanggalkan semata-mata karena Tuhan. “Aku ini…adalah dirim(M)u/ Cinta ini…adalah cintam(M)u/ Aku ini…adalah dirim(M)u/ Jiwa ini…adalah jiwam(M)u/ Rindu ini…adalah rindum(M)u/ Darah ini adalah darahm(M)u/ Tak… ada yang lain…selain dirim(M)u/ Yang selalu kupuja…ouo…/ ku…sebut namam(M)u/ Di setiap hembusan nafasku/ Kusebut namam(M)u…/ kusebut namamu…/ Dengan tanganm(M)u…aku menyentuh/ Dengan kakim(M)u…aku berjalan/ Dengan matam(M)u… kumemandang/ Dengan telingam(M)u…kumendengar/ Dengan lidahm(M)u…aku bicara/ Dengan hatim(M)u…aku merasa (Satu).”

Politik dan Kekuasaan

Paham wihdlatul wujud memang pernah dianggap sebagai aliran sesat dalam Islam. Dua orang penganut fanatiknya, al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar, bahkan dibunuh oleh rezim penguasa pada masanya karena menganut dan mengajarkan paham ini. Tapi satu hal yang tidak bisa diingkari, di samping berbagai alasan politis yang melatarbelakangi eksekusi itu, adalah kondisi sosial politik yang menjadi anutan kekuasaan saat itu.

Al-Hallaj dan Syech Siti Jenar tidak hidup di masa modern di mana nilai-nilai demokrasi dan pengakuan terhadap perbedaan ditegakkan; bahwa ada prinsip kebebasan bagi siapa saja untuk menganut paham keagamaan apa saja, karena religiusitas adalah perkara yang sangat pribadi. Dalam hal ini, kalau betul bangsa ini sedang mencoba menerapkan segala prinsip negara demokratis, kebebasan Dewa adalah contoh untuk mengekspresikan keyakinan keagamaannya.

Apa yang dilakukan Dewa saat ini adalah barang langka yang harus terus dijaga agar tidak punah oleh tangan-tangan jahil kaum “jahiliah.” Bukan berarti Dewa telah membawa kebenaran sejati, tapi setidaknya Dewa telah memberikan pengakuan terhadap keragaman umat manusia. Dewa mengemukakan pendapat, tetapi tidak mengklaim benar sendiri.

“Maafkanlah slalu… salahku/ Karena kau memang pemaaf/ Dan aku hanya… manusia… (Hidup Ini Indah).” Hidup dalam keragaman bukanlah petaka, melainkan masa depan keindahan ummat manusia. “Shine on…shine on/ Let’s make harmony… for a better future (Shine On).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s