setelah Bias

Posted: April 4, 2010 in setelah Bias

setiap budaya memberi sebutan berbeda tentang cerita ini,

Kemudian engkau datang dan membetuk sebuah lengkungan yang begitu indah dengan rupa-rupa warna, sejenak engkau memudar kemudian bercahaya kembali, tak berubah sedikitpun walau sayap sang angin menghempaskanmu, lebih keras dan semakin keras, biasanya engkau hadir disaat mendung dikala langit tak menunjukkan keganasannya, atau mungkin langit yang melunak karena hadirmu.

Tidak jelas apa unsurmu, tidak pasti hadirmu, biasanya engkau datang saat hujan mulai reda, saat guntur dan petir menggertak, saat langit bermuka masam engkau datang dengan rona warna yang indah sebagai pelipur lara bagi insan yang masih setia menatap langit.

Al-Musawwir membentukmu nyaris sempurna tak terlihat  olehku kekurangan yang dapat mengurangi besarnya kekagumanku akan indah sosokmu, atau mungkin justaru aku silau melihat pesonamu. Al-Musawwir menakdirkanmu terlahir dari Posisi yang tinggi, bahkan terlalu tinggi bagiku dan menjadikannmu tak teraih sedikitpun-sedikitpun.

Sore ni tak terlihat lagi olehku tak ada bayangmu tak ada lagi tanda-tanda hadirmu mungkin engkau sedang mencoba menghiasi langit di belahan bumi yang lain agar ceria mu dirasakan seluruh insan yang mengenalmu, agar mereka senantiasa rindu dan mendamba hadirmu, kemudian terpuaskanlah seluruh hasratmu dan pusat kendali ada ditangannmu

Aku justru ”Geli” dan mulai meragu, benarkah Substansi hadirmu sebagai pelipur lara, sebagai pembawa ceria dikala langit sedang tak  bersahabat. Kemudian engkau pergi begitu saja, disaat kami benar-benar menyayagimu karena datang pada saat yang tepat, saat semua cerita bermuara padamu. Dan ”Abstain” saat benar-benar dibutuhkan, bukan karena engkau tak berniat hadir, melainkan engkau tak punya waktu lagi, dan sadarkah engkau kini berubah menjadi penyiksa.

menyayangimu berarti menghalalkanmu untuk menyakitiku

Tulisan ini mengalir begitu saja, diiringi lagu om Ebiet kubiarkan jari ini menari-nari diatas keyboard sesekali mata ini menatap langit-langit, belum juga Sirna wajahmu dari angan-anganku. Belum lagi ATM Mandiri yang nggak tau nyasar kemana. Ingin sekali rasanya aku tertawa bersamamu, tapi engkau tak disini dan engkau telah memilih, jalani pilhanmu wahai

Komentar
  1. aroq mengatakan:

    Anda, adalah perwujudan dari apa yang selalu Anda pikirkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s