Gagal saya menahan air mata ini….

Posted: November 16, 2010 in Cerpen

Meski bukan baru, tapi baju yang saya pakai masih terlihat seperti baru. Bersih dan rapi. Begitu juga yang dikenakan teman saya. Tangis haru dan tawa gembira mewarnai suasana lebaran hari itu(2009)….

Sepulang sholad Id, anak-anak berlarian memburu keluarga mereka untuk meminta maaf sembari mencium tangan. Setelah sebelumnya berhamburan di seiring kumandang takbir, mengecup lembut tangan dan dan saling berjabat. Saya dan teman membalasnya dengan senyum seiring kasih. Sebelum berlalu, tak lupa kami mengucap syukur dalam hati.

Ada air mata yang menetes saat kutatap wajah tua di hadapanku. Terlalu lemah hati ini untuk menahan rasa yang begitu dalam terhadap sosok wanita karena tak jua hilang bayang ibu dari benakku, sesosok anggun yang selalu ingin kucium kakinya. Kurengkuh kaki letihnya, kunikmati wangi cintanya seraya berharap kelak mendapatkan surgaku dari sana. Lalu, mengalirlah doa dan kalimat penuh kasihnya untuk anak yang sering tak tahu membalas budi ini. Kemudian satu persatu nasehat mengalir dari bibirnya.

Terima kasih untuk temanku yang mencoba menghalau rasa sedih ini dengan mengajak kerumah iparnya dengan alasan silaturahmi, Aneka kue khas hari raya yang telah tersedia di meja ruang tamu nampaknya tak sabar menanti untuk disentuh. tentu saja takkan melewatkan hidangan khas lebaran di rumahmu sobat, mau kemana lagi wuhahha…

indah dan harunya hari raya saat itu terasa kurang lengkap karena belum menyapa meski sebatas salam dengan keluarga di kampong, maklum hapenya RUSAK, signal ngadat non kompromi.

Berdua kami memacu kendaraan menngelilingi kota mamuju tempat yang belum begitu familiar bagi saya pribadi(2009), Untuk sementara kami tangguhkan rencana silaturahim karena tuntutan frofesi (kamuflase). dering telepon kemudian terdengar dari ruang kerjaq, terdengar suara anak kecil di ganggang telepon dan berharap kami datang untuk membantu, daaaan standing dan terbang

Sebaris senyum belasan anak-anak dari halaman rumah menyambut salam kami. Seorang dari mereka yang paling besar mempersilahkan kami masuk …

Rumah kecil itu, dinding-dindingnya terlihat terkelupas di beberapa sisi. Tak ada satu pun anak yang mengenakan baju baru, sepatu baru, juga tak ada yang terlihat tengah menghitung-hitung uang hasil pemberian saudara-saudara mereka. Tak ada kue khas hari raya. Tak tersedia ketupat lebaran, apalagi semur daging atau rendang pelengkap sayur bumbu kuning. Air yang tersedia untuk kami pun hanya air tak berwarna, jelas, karena mereka tak punya sirup.

Di rumah panti anak yatim itu, hanya ada mata-mata kosong menanti uluran tangan para dermawan. Mereka tak pernah lagi menikmati saat-saat indah di hari raya dengan aneka hidangan, pakaian bagus, cium dan peluk hangat dari orang-orang terkasih. Tak lagi mereka dapatkan punggung tangan dan pipi untuk dikecup sepulang sholat Id, juga kaki-kaki mulia tempat mereka bersimpuh, bahkan sebagian besar mereka pun tak pernah tahu wajah orang yang pernah melahirkannya.

Sebagian mereka mengaku terus bertanya, kenapa Allah membiarkan mereka hidup tanpa orang tua? “Apakah Allah tak ingin melihat saya bermanja dengan ibu?” tanya Ardi, salah seorang penghuni panti berusia delapan tahun. Tidak sedikit dari mereka terus berharap Allah mengembalikan orang tua mereka agar mereka bisa merasakan menjadi anak, yang mendapatkan kasih sayang orang tua, agar ada tangan yang dikecup saat berangkat dan pulang sekolah, agar ada satu kesempatan bagi mereka untuk menikmati manisnya berbakti.

Mereka seolah tak peduli dengan aneka makanan dan hadiah yang kami bawa. Bukan itu yang mereka rindui. Mereka mengaku sudah terbiasa hidup tanpa berlimpah makanan. Bersekolah tanpa uang jajan pun sudah keseharian mereka. Ada yang lebih mereka rindui di sepanjang hari, terlebih di hari raya ini.

Akbar, lelaki kecil berusia enam tahun menghampiri dan berbisik di telinga saya, “Kak, gimana rasanya tidur ditemani mama?”

Gagal saya menahan air mata ini….
(semoga esok saya lebih tegar)
aro mullah nasruddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s